Tentang Kami

DEWAN MASYARAKAT ADAT MOMUNA (DMAM)

Tanah Papua adalah sebuah pulau yang meyimpan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang membentang dari Sorong hingga Merauke. Di Tanah Papua terdapat 253 suku yang tersebar dengan masing-masing keunikan adat istiadat yang terus terjaga. Diantaranya adalah kami, Masyarakat Adat Momuna. Sejak nenek moyang kami selalu menjaga hubungan antar sesama manusia maupun hubungan manusia dan lingkungan.

Nenek moyang kami mempunyai kearifan local untuk menjaga keberlangsungan hidup kami yang terdapat dalam Adat Istiadat, Hukum Adat dan Wilayah adat hingga saat ini. Kami, sebagai Masyarakat Adat Momuna mendiami dataran rendah bagian selatan pengunungan Jawawijaya yang hidup dalam kesederhanaan dan menghargai lingkungan seperti yang diajarkan oleh nenek moyang kami.

Tidak ada tanah yang kosong tidak berpenghuni, karena Tuhan telah menciptakan alam dan manusia bertugas menjaga dan merawatnya. Artinya Wilayah Adat Momuna yang selama ini dianggap sebagai daerah tidak berpenghuni, itu adalah tidak benar. Wilayah Adat Momuna tersebar dari daerah Samboga di bagian Timur, Suru-Suru di bagian Barat, Kiribun di Bagian Utara dan Muara di Bagian Selatan. Sebagai pemilik hak ulayat maka apa yang terkandung diatas tanah dan didalam tanah adalah hak Masyarakat Adat   Momuna dan digunakan bagi kesejahteraan kami.

Perubahan yang terjadi secara global, regional dan local telah membuat dampak kepada kehidupan masyarakat Adat Momuna. Dampak baik dan tidak baik terus berlangsung hingga kini dan akan datang serta terus berjalan beriringan seiring dengan eksistensi hidup Masyarakat Adat Momuna. Dampak baik tentu saja akan kami terima dan kami perkuat. Sedangkan dampak tidak baik, akan terus kami kurangi dengan upaya-upaya yang mengutamakan musyawarah mufakat dan bermartabat melalui musyawarah adat atau bentuk lainnya sesuai dengan adat istiadat.

Masyarakat Adat Momuna tidak menolak pembangunan ataupun menolak investor /pengusaha, namun kehadiran mereka setidaknya memberikan sebuah kontribusi positif agar dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya bagi masyarakat Adat Momuna. Karena kami belajar dari Suku Papua ditempat lain, selama ini terkadang proses pembangunan dan investor tidak melalui proses yang baik dan benar namun cenderung mengabaikan otoritas dan hak ulayat dari para marga dan juga minimnya pemberian infomasi yang seluas-luasnya bagi kami Masyarakat Adat Momuna terhadap dampak baik dan buruk yang ditimbulkan. Keterlibatan Masyarakat Adat Momuna secara partisipatif menjadi harga mutlak sebagai kontribusi dalam pembangunan. Sehingga dibutuhkan keseriusan oleh semua pihak dan dukungan penuh dari masyarakat adat Momuna untuk menyikapi perubahan social yang terjadi sejak tahun 2003 hingga sekarang.

Pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya bagi Masyarakat Adat Momuna akan terus diupayakan oleh kami. Untuk itu kami dengan senang hati dan membuka tangan kepada semua pihak yang mempunyai kepedulian untuk bekerjasama untuk menjaga eksistensi Masyarakat Adat Momuna dan kelestarian lingkungan.

Kami tidak ingin hutan kami ditebang habis, kami tidak ingin sumber obat-obatan, makanan baik hewan dan tumbuhan tergantikan oleh hal yang baru yang bukan bagian dari budaya kami. Kami tidak ingin mengecewakan anak cucu kami karena mereka sudah tidak mengetahui budaya, hukum adat dan wilayah adat Masyarakat Adat Momuna maupun kehilangan Sumber Daya Alam.

DMAM didirikan oleh para pegiat sosial dan Masyarakat Adat Momuna Inisiatif ini muncul saat dilakukan pertemuan Pelatihan Community Organizer Bagi Masyarakat Adat Momuna di Gedung Gereja GIDI, tanggal 28-29 April 2014. Lalu diditindaklanjuti oleh para aktivis muda Masyarakat Adat Momuna pada hari Selasa tanggal 8 , 10 , 14 dan 16 September 2014 untuk menyiapkan kelengkapan KONFRENSI KE – I MASYARAKAT ADAT MOMUNA. Dan Pertemuan Pra Konfrensi di Gereja Katholik St. Joseph Dekai.

Adapun pegiat yang telah memberikan dedikasinya dalam menginisisasi Dewan Masyarakat Adat Momuna (DMAM)  adalah: Barthol Kubu, Tinus Keikyera, Simon Kokini, Sem Kokini, Yusupa Kokini, Andy Irainkya (alm), Ismail Keikyera, Ayub Keikye, Sam Baimuka dan perwakilan dari Jaringan Kerja Rakyat (Jerat) Papua : Septer Manufandu, Sabatha Rumadas , Esra Mandosir, dan Wirya Supriyadi.