Kepala Sekolah Dasar Pertama Suku Momuna

Dekai,- Demianus Keikyera adalah orang pertama dari Suku Momuna yang diangkat jadi Kepala Sekolah Dasar Kwaserama, Distrik Dekai Kabupaten Yahukimo. Bagi masyarakat Suku Momuna, jabatan ini adalah sebuah penghormatan, sebab selama ini belum ada seorangpun dari suku itu yang menduduki jabatan setinggi itu di lingkungan dinas pendidikan.
Ia lahir dari keluarga sederhana di kampung terpencil dan tumbuh dalam lingkungan masyarakatnya yang belum mengenal pendidikan. Namun Demianus memiliki pandangan yang jauh kedepan tentang masa depannya. Ia pun menempuh pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas di kampungnya, Dekai.
Setamat SMA di pusat ibukota pemerintahan Kabupaten Yahukimo di Dekai, Demianus Keikyera melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tingggi, yakni di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Cenderawasih Jayapura.
Setelah berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), ia kembali mengabdi di kampungnya sendiri di SD Kwaserama Distrik Dekai Kabupaten Yahukimo. Demianus ingin memberi dorongan, sekaligus menjadi sumber motivasi bagi generasi sesukunya untuk mengenyam pendidikan agar bisa keluar dari belenggu kebodohan dan keterisolasian.
Jalan yang ditempuh Demianus untuk meraih masa depan yang cerah cukup panjang dan berliku. Makan sekali dalam seharipun tak tentu, uang pun susah didapat dan tak mungkin mendapat kiriman uang dari orangtua di kampung terpencil. Walau kondisi yang dialaminya semasa pendidikan serba berkekurangan, semangatnya tak pernah padam. Ia tetap tabah dan tekun belajar demi masa depannya yang lebih baik.
Setelah sekian lama bertugas sebagai guru sekolah dasar, akhirnya pada 2014, Demianus Keikyera dipercaya oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo menjadi Kepala SD Kwaserama di Distrik Dekai. Semula ia berkeberatan menerima jabatan tersebut dengan alasan belum berpengalaman, tapi atas dorongan sesama guru di sekolah dan sanak familinya serta dia satu-satunya guru lulusan perguruan tinggi bergelar sarjana yang berasal dari Suku Momuna, akhirnya ia menerima tanggung jawab itu demi membangun sumberdaya manusia Suku Momuna yang kini dianggap masih terbelakang.
Bagi masyarakat adat Momuna yang mendiami dataran bagian Selatan Kabupaten Yahukimo, pemberian jabatan ini merupakan penghormatan dan memiliki kebanggaan sendiri.
Saat ditemui di rumahnya yang terletak di Kampung Sosial Paradiso, Dekai, Demianus menceritakan kisahnya hingga akhirnya bisa mendapatkan kepercayaan menjadi kepala sekolah.
“Saya memang bercita-cita menjadi guru untuk memajukan sumberdaya manusia Momuna, agar mereka juga bisa sama seperti saudara-saudara yang lainnya”.
Ia sangat prihatin dengan kondisi sumberdaya manusia Suku Momuna. Kondisinya masih sangat tertinggal. Pelajaran yang diajarkan guru di sekolah menggunakan bahasa Indonesia sulit dimengeri dengan baik oleh anak-anak. Salah satu hambatannya menurut Demianus, karena anak-anak usia sekolah masih kental dengan bahasa daerahnya. Mereka sulit berbahasa Indonesia di sekolah maupun di rumah. Akibatnya, terkadang siswa kesulitan menangkap apa yang disampaikan para guru dalam bahasa Indonesia di sekolah.
Para guru di sekolah juga tidak bisa berbahasa daerah karena mereka bukan berasal dari Suku Momuna. Sehingga terkadang siswa kesulitan menangkap apa yang disampaikan oleh para guru dalam bahasa Indonesia.
“Saya sebagai anak Momuna mengajar, jika siswa terlihat kesulitan memahami materi yang saya sampaikan, maka saya akan jelaskan menggunakan bahasa Momuna agar mereka lebih mudah dan cepat menangkap mata pelajaran tersebut”, ujarnya Demianus.
Maka pada kondisi tertentu dalam proses belajar-mengajar perlu menggunakan pendekatan budaya, sehingga apa yang ingin disampaikan oleh guru kepada muridnya dapat dicerna dengan baik.
Demianus mengajak generasi muda Momuna, agar giat belajar untuk mencapai cita-cita. Karena saat ini masih banyak anak-anak sekolah, khususnya dari Suku Momuna yang kurang lancar membaca dengan baik. “Dan ini menjadi tantangan bagi saya untuk mengajar dan mewujudkan cita-cita anak-anak Momuna. Saya berharap kedepannya ada yang bisa menjadi guru dan mengajar di sekolah-sekolah dan mendidik generasi muda Momuna semakin maju,” harap Demianus. (Wirya Supriyadi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *